SULAWESI TENGAH — Kementerian ESDM menyiapkan Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan sebagai basis produksi bahan bakar minyak (BBM) dari batu bara kalori rendah. Langkah ini mengejar pemanfaatan cadangan batu bara berkalori rendah yang melimpah di dua wilayah tersebut, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor BBM.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung menyampaikan pemerintah tengah menyiapkan fasilitas produksi untuk mengubah batu bara kalori rendah menjadi bahan bakar minyak. Fasilitas ini tidak dibangun dari nol, melainkan menyambung sejumlah proyek yang sudah mulai berjalan di daerah penghasil batu bara.
"Jadi ada beberapa yang di Kalimantan Timur itu sudah mulai kita dorong untuk kegiatannya itu ada juga yang di Sumatera Selatan atau daerah-daerah yang potensi batu baranya cukup besar," ujar Yuliot saat ditemui di TMP Kalibata, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Pemilihan Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan bukan tanpa alasan. Dua provinsi itu punya cadangan batu bara berkalori rendah dalam jumlah besar, jenis yang selama ini sulit dijual di pasar ekspor karena nilai kalornya di bawah standar pembeli.
Selama ini batu bara kalori rendah kerap hanya menumpuk di mulut tambang atau dijual dengan harga rendah. Teknologi gasifikasi dan pencairan membuka jalan agar komoditas itu punya nilai tambah, bukan sekadar bahan bakar pembangkit.
Bagi pemerintah, pengolahan batu bara jadi BBM juga jadi cara menekan impor bahan bakar. Setiap liter BBM yang bisa diproduksi di dalam negeri mengurangi kebutuhan devisa untuk membeli dari luar.
Kementerian ESDM sebelumnya sudah melakukan groundbreaking Proyek Strategis Nasional (PSN) Gasifikasi Batu Bara menjadi Metanol di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Proyek di Kutai Timur itu menjadi penanda bahwa skema pengolahan batu bara tidak berhenti di kajian. Pemerintah memakai proyek tersebut sebagai rujukan sebelum memperluas ke daerah lain dengan potensi serupa.
Metanol sendiri merupakan bahan baku industri yang bisa dipakai untuk berbagai keperluan, termasuk campuran bahan bakar. Kehadiran fasilitas ini membuka rantai pasok baru dari tambang batu bara menuju industri kimia dan energi.
Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan selama ini menjadi lumbung batu bara nasional. Kehadiran fasilitas pengolahan di dua wilayah itu berpotensi menyerap tenaga kerja lokal dan menambah penerimaan daerah dari sektor hilirisasi.
Pemerintah daerah di sekitar lokasi proyek juga berkepentingan menyiapkan infrastruktur pendukung, mulai jalan angkut hingga pasokan air dan listrik. Tanpa itu, fasilitas pengolahan berisiko berjalan di bawah kapasitas.
Yang perlu dicermati, teknologi pencairan batu bara dikenal padat modal dan padat energi. Kelayakan ekonominya sangat bergantung pada harga batu bara, harga minyak dunia, dan insentif fiskal yang diberikan pemerintah.
Kementerian ESDM belum merinci berapa kapasitas produksi yang ditargetkan dari masing-masing wilayah maupun nilai investasi yang dibutuhkan. Yang jelas, arah kebijakannya sudah ditegaskan: batu bara tidak lagi hanya diekspor mentah, tetapi diolah dulu di dalam negeri.
Jika berjalan sesuai rencana, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan bisa menjadi pusat produksi BBM sintetis pertama di Indonesia. Keberhasilan dua wilayah ini akan menentukan apakah model serupa layak direplikasi ke daerah penghasil batu bara lain seperti Sumatera Selatan.