Ratusan Hotel di Bali Dijual Online, Kemenpar Sebut Bukan karena Sepi Wisatawan

Penulis: Andi Pratama  •  Sabtu, 26 September 2026 | 15:18:31 WIB
Ratusan hotel dan vila di kawasan wisata Bali ditawarkan melalui platform properti daring.

SULAWESI TENGAH — Fenomena ratusan hotel dan vila di Bali yang dijual lewat platform properti daring tersebar di kawasan wisata seperti Kuta, Ubud, Nusa Dua, Canggu, hingga Seminyak. Kementerian Pariwisata menegaskan penjualan properti itu tidak otomatis menandakan industri perhotelan Pulau Dewata bangkrut. Kunjungan wisatawan ke Bali justru tercatat naik dari 15,15 juta pada 2023 menjadi 16,56 juta pada 2025.

Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Strategi Komunikasi dan Media sekaligus Juru Bicara Kemenpar, Apni Jaya Putra, menyampaikan penjelasan melalui siniar Wonderful Indonesia Podcast yang tayang di YouTube. Menurut Apni, kondisi ini perlu dilihat secara utuh, termasuk dari pertumbuhan wisatawan dan perkembangan jumlah akomodasi di Bali.

Dari sisi kunjungan, angka 16,56 juta pada 2025 terdiri dari sekitar 6,95 juta wisatawan mancanegara dan 9,61 juta wisatawan nusantara. Peningkatan itu menunjukkan persoalannya bukan semata-mata karena wisatawan berhenti datang ke Bali.

Pilihan Menginap Kini Makin Beragam

Apni menilai pilihan tempat menginap bagi wisatawan kini jauh lebih bervariasi dibandingkan beberapa tahun lalu. Hotel tidak lagi hanya bersaing dengan sesama hotel, tetapi juga dengan akomodasi alternatif yang mudah dipesan lewat platform digital.

"Dulu kita kalau ke Bali mungkin tinggalnya di hotel atau kita pergi ke guesthouse, homestay dan seterusnya, sekarang akomodasi alternatif itu banyak sekali dan kemudahan-kemudahan. Ada online travel agent," ujar Apni dalam siniar tersebut.

Pasokan Kamar Naik 45,9 Persen, Kunjungan Hanya 0,65 Persen

Kemenpar mencatat jumlah kamar di Bali meningkat sekitar 45,9 persen pada 2024-2025. Pada periode yang sama, total kunjungan wisatawan hanya bertambah sekitar 0,65 persen. Selisih itu dinilai memunculkan risiko ketidakseimbangan antara pertumbuhan pasokan dan permintaan.

Meski begitu, Kemenpar belum menyimpulkan bahwa Bali secara keseluruhan mengalami kelebihan pasokan atau oversupply. Apni mengatakan kondisi pasar perlu dilihat lebih rinci berdasarkan lokasi, jenis akomodasi, tingkat hunian, dan pertumbuhan permintaan.

Tingkat Hunian Hotel Berbintang vs Nonbintang

Data 2025 menunjukkan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang berada di sekitar 60,8 persen. Sementara itu, akomodasi nonbintang hanya sekitar 42,8 persen. Angka tersebut memperlihatkan pertumbuhan wisatawan tidak selalu dirasakan secara sama oleh setiap segmen akomodasi.

"Hotel yang dijual tidak otomatis berarti mengalami kebangkrutan. Keputusan menjual properti dapat berkaitan dengan berbagai pertimbangan bisnis, seperti perubahan kepemilikan, keputusan investasi maupun penyesuaian usaha," terang Apni.

Yang Perlu Dipahami Traveler

Bagi wisatawan yang berencana menginap di Bali, penjelasan ini memberi konteks bahwa banyaknya hotel dijual bukan berarti pilihan akomodasi menyusut. Justru sebaliknya, pasokan kamar bertambah dan pilihan menginap semakin luas, mulai dari hotel berbintang, vila, hingga homestay.

Kondisi itu membuka ruang bagi traveler untuk membandingkan harga dan fasilitas sebelum memesan. Tingkat hunian yang berbeda antara hotel berbintang dan nonbintang juga bisa menjadi petunjuk soal pengalaman menginap yang ditawarkan masing-masing segmen.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top