Pertamina Patra Niaga memastikan penyaluran bahan bakar minyak di Pulau Sulawesi terus dioptimalkan menyusul masih adanya antrean di sejumlah SPBU pada jam-jam sibuk. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Lilik Hardiyanto menyebut kondisi penyaluran secara umum kondusif, dengan penyesuaian pola distribusi di tiap wilayah. Di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, perusahaan menambah suplai sekitar 5 persen dari rata-rata penyaluran normal harian.
PALU — Antrean kendaraan pengisi Biosolar masih muncul di sejumlah SPBU wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Gorontalo pada waktu-waktu sibuk pendistribusian. Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menilai kondisi itu tidak mengganggu pasokan secara keseluruhan, tetapi tetap menyesuaikan pola penyaluran berdasarkan perkembangan kebutuhan masing-masing daerah.
Lilik Hardiyanto menjelaskan penyesuaian dilakukan sambil menjaga ketahanan stok dan pelayanan kepada masyarakat. Salah satu titik yang mendapat perhatian khusus adalah Kabupaten Buol yang hanya memiliki dua SPBU reguler.
Untuk menjaga pemerataan penyaluran di Buol, Pertamina meningkatkan suplai sekitar 5 persen dari rata-rata penyaluran normal harian. Pengiriman diprioritaskan melalui koordinasi dengan Depot Tolitoli.
"Kami mengoptimalkan Marshall SPBU untuk membantu pengaturan antrean, berkoordinasi dengan Depot Tolitoli untuk memprioritaskan pengiriman ke Buol, dan memperketat penyaluran sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), termasuk memastikan kesesuaian kode batang atau QR Code dengan nomor polisi kendaraan," kata Lilik.
Di Gorontalo, penambahan nozzle Pertalite dilakukan untuk mengurai tumpukan kendaraan. Sementara di Kota Manado, penyaluran harian Biosolar dinaikkan 8 persen dibandingkan Agustus dan nozzle Biosolar ditambah, sedangkan penyaluran Pertalite dalam kondisi landai.
Wilayah Sulawesi Tenggara tercatat paling kondusif. Rata-rata distribusi harian sepanjang September berada di kisaran 22,7 persen dibandingkan rata-rata distribusi normal periode Januari hingga Mei 2026.
Lilik menyebut sejumlah langkah ditempuh untuk menjaga kondisi tersebut, mulai dari penambahan jam operasional SPBU, optimalisasi nozzle Pertalite, hingga kolaborasi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk menertibkan pengecer.
"Secara umum kondisi penyaluran berlangsung kondusif, namun masih ada sebagian kecil SPBU di daerah antre pada waktu-waktu tertentu, terutama BBM subsidi," ujarnya.
Di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, antrean di SPBU disebut sudah normal. Meski begitu, Pertamina tetap memperkuat pasokan dengan penambahan suplai Pertalite 35 persen dan Solar 4,4 persen.
Pengaturan di lapangan diterapkan terutama di Kota Makassar melalui sistem ganjil-genap pada periode 13–20 September 2026, serta pengaturan pengisian BBM bagi kendaraan besar pada malam hari.
Perusahaan juga memberlakukan batas maksimal pengisian BBM per hari yang disesuaikan dengan kapasitas tangki standar kendaraan. Kebijakan itu bertujuan memastikan penyaluran sampai ke masyarakat sesuai kebutuhan, bukan untuk penimbunan.
Pertamina memastikan pemantauan stok dan distribusi di seluruh wilayah Sulawesi berjalan berkelanjutan, termasuk mengantisipasi lonjakan permintaan pada jam-jam sibuk di daerah dengan jumlah SPBU terbatas seperti Buol.