JAKARTA — Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai pusat likuiditas (liquidity hub) aset kripto di kawasan Asia Tenggara. Tingginya aktivitas pasar domestik dan minat proyek blockchain global disebut menjadi modal utama untuk mewujudkan hal tersebut.
Vice President of Business Development Indodax James Eugene mengatakan, proyek-proyek global saat ini melihat Indonesia sebagai pasar dengan potensi besar dan likuiditas yang kuat. Namun, ia mengingatkan bahwa likuiditas adalah hal yang kompleks karena melibatkan banyak aktor.
“Mereka (proyek global) melihat Indonesia sebagai pasar yang memiliki potensi besar dan likuiditas yang kuat. Namun, likuiditas sendiri jauh lebih kompleks karena melibatkan banyak aktor, sehingga diperlukan sinergi untuk mengembangkan produk dan ekosistem bersama,” ujar James dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
James membeberkan dua hal utama yang perlu diperkuat jika Indonesia ingin berkembang menjadi pusat kripto di Asia Tenggara. Pertama, semakin banyak builders yang membangun produk dan infrastruktur berkapabilitas global.
Kedua, ketersediaan likuiditas yang mampu menghubungkan proyek, exchange, investor, dan seluruh bagian dalam ekosistem blockchain. Menurutnya, kombinasi keduanya akan menciptakan kondisi yang memungkinkan likuiditas tumbuh dari sisi permintaan dan penawaran.
Di luar dua aspek itu, kepastian regulasi menjadi faktor krusial untuk menarik partisipasi institusi dan perusahaan global. James menilai, Indonesia sebenarnya telah memiliki regulasi aset digital, namun arah kebijakan ke depan masih menjadi pertimbangan utama pelaku usaha.
“Yang penting adalah kepastian mengenai bagaimana regulasi dan infrastruktur hukum akan berjalan ke depan,” kata James saat berbicara dalam panel diskusi pada Indonesia Blockchain Week (IDBW) 2026 di Jakarta.
Bagi institusi atau perusahaan asing, hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan ketika menentukan apakah mereka ingin membangun bisnis di Indonesia. Tanpa kepastian itu, peluang besar pasar domestik bisa saja tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh investor global.
James menilai posisi exchange adalah mencari titik keseimbangan antara kebutuhan pasar, inovasi, dan kepatuhan. Perlindungan konsumen tetap menjadi pertimbangan utama ketika berhadapan dengan berbagai proyek dan produk baru yang ingin masuk ke pasar Indonesia.
Dengan penguatan ketiga aspek tersebut, Indonesia disebut memiliki ruang untuk memperkuat perannya dalam ekosistem aset digital di kawasan. Indonesia tidak hanya akan menjadi pasar pengguna aset digital, tetapi juga bagian dari ekosistem regional yang mampu menarik proyek, modal, dan inovasi global.