SULAWESI TENGAH — Wakil Kepala Staf Gedung Putih Daniel Scavino mengirimkan surat resmi kepada Lisa Cook pekan ini, menuntut tanggapan atas tuduhan bahwa ia menyampaikan keterangan palsu dalam sejumlah pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR). Surat tersebut menyatakan bahwa meski tindakan Cook tidak memenuhi unsur tindak pidana berat, hal itu dinilai menunjukkan "kelalaian besar dalam transaksi keuangan" yang mempertanyakan kompetensinya sebagai regulator keuangan.
Tuduhan ini pertama kali dilontarkan oleh William Pulte, sekutu Trump yang kini mengawasi Fannie Mae dan Freddie Mac. Namun, isu yang sama sebelumnya telah gagal di pengadilan. Mahkamah Agung AS menolak upaya pemberhentian Cook pada tahun lalu, menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan intervensi politik terhadap independensi bank sentral.
Pengacara Cook, Abbe Lowell, merespons dengan tegas. "Tuduhan ini sama tidak berdasarnya seperti ketika Presiden Trump mencoba memberhentikan Gubernur Cook dan mencampuri independensi Federal Reserve setahun lalu," ujarnya dalam pernyataan resmi. Lowell menegaskan kliennya membantah seluruh pelanggaran yang dituduhkan.
Langkah terbaru Gedung Putih ini datang di saat The Fed berada dalam posisi sensitif. Bank sentral AS tengah menyeimbangkan tekanan inflasi dengan risiko perlambatan ekonomi, sementara pasar obligasi dan nilai tukar global masih volatil. Campur tangan politik terhadap pejabat The Fed berpotensi mengganggu kredibilitas kebijakan moneter AS di mata investor internasional.
Bagi pelaku pasar, isu ini bukan sekadar drama politik Washington. Sejarah menunjukkan bahwa tekanan terhadap independensi bank sentral kerap memicu aksi jual di pasar obligasi dan pelemahan mata uang. Investor kini mencermati apakah anggota Dewan Gubernur The Fed lainnya akan terkena dampak serupa, yang dapat mengubah arah kebijakan suku bunga ke depan.
Cook memiliki tenggat waktu untuk merespons surat dari Scavino. Jika proses ini berlanjut, kasusnya hampir pasti kembali berujung di pengadilan, mengingat preseden hukum yang sudah ditetapkan Mahkamah Agung. Namun, eskalasi politik yang terus berulang ini tetap menjadi risiko bagi stabilitas institusi keuangan AS.
Belum ada sinyal apakah anggota dewan lainnya akan mendukung atau menentang langkah Cook. Yang jelas, setiap keputusan yang diambil dalam beberapa pekan ke depan akan diawasi ketat oleh pasar global—termasuk investor Indonesia yang portofolionya sensitif terhadap pergerakan imbal hasil obligasi AS dan nilai tukar dolar.