Pertamina Drilling Kuasai 53 Rig Darat, Jadi Pemilik Armada Terbesar di Asia Tenggara

Penulis: Andi Pratama  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 10:26:01 WIB
Rig darat milik Pertamina Drilling beroperasi di salah satu lokasi pengeboran di Sulawesi Tengah.

SULAWESI TENGAH — Jumlah armada itu bukan sekadar angka. Bagi industri hulu migas, kapasitas rig menentukan seberapa cepat sumur-sumur baru bisa dibor untuk menggantikan produksi yang menurun. Dengan 53 unit rig darat yang tersebar, Pertamina Drilling memegang peran krusial dalam menjaga target produksi minyak dan gas bumi nasional.

Perusahaan yang berada di bawah naungan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ini tidak hanya menyediakan alat berat. Mereka menggarap seluruh rantai pekerjaan pengeboran, mulai dari penyiapan lokasi, pengeboran itu sendiri, hingga pengelolaan lumpur dan limbah. Kliennya tidak terbatas pada internal Pertamina, tetapi juga perusahaan migas lain di Indonesia.

Komposisi Armada dan Dukungan untuk Produksi Migas

Dari total 58 rig yang dioperasikan, komposisinya terdiri atas 53 unit rig darat, tiga unit jack-up rig yang dioperasikan melalui aliansi strategis, serta dua unit offshore workover rig berkekuatan 550 HP. Rig workover sendiri berfungsi untuk perawatan dan perbaikan sumur tua agar produksinya kembali optimal.

Vice President Corporate Secretary & Legal Counsel Pertamina Drilling, Himawan Djatmiko, menegaskan bahwa pihaknya siap mendukung kebutuhan pengeboran di seluruh regional Subholding Upstream Pertamina. "Kami adalah land rig owner terbesar di Asia Tenggara, dengan 53 unit rig onshore berkapasitas 150 HP hingga 2.000 HP yang siap mendukung berbagai kebutuhan pengeboran," ujarnya.

Kapasitas 2.000 HP menjadi andalan untuk pengeboran sumur dalam yang membutuhkan tenaga besar. Sementara rig berkapasitas lebih kecil digunakan untuk sumur-sumur dangkal atau pekerjaan intervensi. Fleksibilitas armada ini memungkinkan Pertamina Drilling melayani berbagai kondisi geologi di Indonesia, dari Sumatra hingga Papua.

Bisnis di Luar Pertamina dan Pasar Internasional

Meski berstatus anak usaha Subholding Upstream, Pertamina Drilling tidak hanya melayani pasar internal. Perusahaan ini juga membuka layanan untuk pasar non-captive, artinya perusahaan migas lain—baik nasional maupun asing—dapat menyewa rig dan layanan penunjang dari mereka.

Langkah ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk menarik investasi di sektor hulu migas. Dengan semakin banyaknya kontraktor yang beroperasi, ketersediaan rig lokal yang mumpuni menjadi daya tarik tersendiri dibandingkan harus menyewa dari luar negeri dengan biaya logistik yang jauh lebih tinggi.

Posisi sebagai pemilik armada terbesar di Asia Tenggara juga menjadi modal berharga untuk ekspansi regional. Negara-negara tetangga seperti Myanmar, Vietnam, dan Malaysia yang memiliki aktivitas pengeboran darat aktif bisa menjadi pasar potensial, terutama saat harga minyak dunia berada di level yang menguntungkan.

Dengan total 58 unit rig yang siap beroperasi, Pertamina Drilling tidak hanya memperkuat ketahanan energi dalam negeri, tetapi juga menempatkan Indonesia sebagai pemain penting dalam industri jasa pengeboran di kawasan. Ini menjadi fondasi yang solid untuk menarik investasi dan menjaga produksi migas nasional tetap berkelanjutan.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top