PALU — Dua rumah sakit milik pemerintah di Kota Palu, Sulawesi Tengah, kini telah memiliki kemampuan untuk melakukan terapi trombolisis, prosedur medis yang efektif melarutkan sumbatan pembuluh darah otak pada pasien stroke. RSUD Anutapura Palu dan RSUD Undata menjadi fasilitas kesehatan pertama di daerah tersebut yang siap memberikan penanganan kritis ini. Langkah ini merupakan bagian dari sinergi antara Pemkot Palu dan Angels Initiative untuk menekan risiko kecacatan permanen.
Perwakilan Angels Initiative, dr. Fransiska Kristina, menekankan bahwa kecepatan penanganan menjadi faktor kunci dalam menyelamatkan fungsi otak pasien stroke. Ia mengungkapkan, penanganan terbaik hanya dapat diberikan apabila pasien tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dalam kurun waktu kurang dari 4,5 jam sejak gejala pertama kali muncul.
"Kami berharap masyarakat segera datang ke rumah sakit ketika muncul gejala stroke. Penanganan terbaik dapat diberikan apabila pasien tiba di rumah sakit dalam waktu kurang dari 4,5 jam sejak gejala pertama muncul," ujarnya di Palu, Sabtu.
dr. Fransiska mengingatkan masyarakat untuk tidak menyepelekan gejala-gejala khas yang sering kali menjadi penanda awal serangan stroke. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain kelemahan mendadak pada salah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara atau bicara pelo, serta mulut yang tampak mencong.
Apabila salah satu dari gejala tersebut muncul, warga diimbau untuk tidak menunda dan segera menuju IGD rumah sakit terdekat. Keterlambatan penanganan sekecil apa pun dapat memperbesar risiko kerusakan jaringan otak yang berdampak pada kecacatan jangka panjang.
Kekhawatiran mengenai biaya perawatan tidak perlu membebani masyarakat. Seluruh biaya pengobatan, termasuk obat-obatan untuk terapi trombolisis yang tergolong mahal, telah dijamin sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan. Kebijakan ini diharapkan menghilangkan hambatan finansial bagi warga untuk segera mencari pertolongan medis.
Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin, menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, rumah sakit, dan mitra kesehatan merupakan langkah strategis yang tidak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga memperkuat edukasi publik. "Melalui sinergi ini diharapkan masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang semakin cepat, tepat, dan berkualitas, sehingga angka kecacatan maupun kematian akibat stroke di Kota Palu dapat terus ditekan," kata Imelda.
Menurut dr. Fransiska, kesiapan rumah sakit di Kota Palu tidak hanya terbatas pada ketersediaan obat. Fasilitas penunjang dan kompetensi tenaga medis yang ada dinilai telah memenuhi standar untuk memberikan penanganan optimal bagi pasien stroke. Hal ini menjadi modal penting dalam membangun sistem layanan kegawatdaruratan yang responsif.
Pemkot Palu berharap masyarakat dapat berperan aktif dengan mengenali gejala stroke lebih dini. Kesadaran untuk segera datang ke rumah sakit pada jam-jam kritis dinilai jauh lebih efektif daripada menunggu kondisi memburuk di rumah.