PALU — Keputusan KORMI Nasional mencabut mandat tuan rumah FORNAS IX 2027 dari Sulawesi Tengah menjadi pukulan telak bagi perekonomian daerah. Padahal, ajang olahraga masyarakat terbesar di Indonesia ini diproyeksikan mampu menggerakkan sektor riil hingga lebih dari Rp 800 miliar, merujuk pada penyelenggaraan FORNAS VIII di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 26 Juli hingga 1 Agustus 2025.
Angka tersebut berasal dari belanja langsung 12.378 pegiat olahraga, 3.870 perangkat pertandingan dan ofisial, serta ribuan keluarga pendamping yang menggunakan pembiayaan mandiri. Mereka dipastikan membelanjakan uang untuk hotel, transportasi, restoran, hingga pusat oleh-oleh selama ajang berlangsung.
Skala FORNAS VIII di NTB mempertandingkan 74 Induk Organisasi Olahraga (Inorga) dengan 847 nomor pertandingan, ditambah 13 Inorga eksibisi dan tiga Inorga undangan. Total keterlibatan peserta diperkirakan melampaui 18 ribu orang, belum termasuk rombongan keluarga yang turut hadir.
Bila FORNAS IX tetap digelar di Sulteng, Kota Palu dirancang menjadi pusat utama perputaran ekonomi. Dampak berantai juga diproyeksikan menyentuh Kabupaten Sigi dan Donggala yang disiapkan sebagai lokasi pertandingan maupun kegiatan pendukung.
Pelaku usaha perhotelan, transportasi, kuliner, ekonomi kreatif, penyedia perlengkapan olahraga, hingga UMKM lokal menjadi sektor yang paling diuntungkan. Gelaran berskala nasional semacam ini biasanya mendorong okupansi hotel penuh selama sepekan, memutar uang di pasar tradisional, dan menaikkan transaksi warung makan hingga destinasi wisata sekitar.
Pencabutan status tuan rumah tertuang dalam Surat Keputusan KORMI Nasional Nomor 016/SK/KORMINAS/VII/2026 yang diterbitkan 25 Juli 2026. Keputusan ini membatalkan penetapan sebelumnya melalui SK Nomor 042/SK/KORMINAS/VIII/2025.
Dalam keterangannya, KORMI Nasional menyebut masih ada sejumlah aspek strategis yang belum dapat dipastikan terpenuhi. Meliputi dukungan anggaran, kesiapan sarana dan prasarana, serta jaminan keselamatan dan keamanan penyelenggaraan.
Sebelum keputusan ini keluar, berbagai persiapan nyaris rampung. Survei venue telah dilakukan, pembentukan Inorga berjalan, percepatan pelantikan KORMI kabupaten dan kota dikejar, hingga agenda Road to FORNAS dan soft launching pada Februari 2026 yang sudah direncanakan.
Pembatalan mendadak ini tidak hanya menghentikan persiapan teknis, tetapi juga memupuskan harapan pelaku usaha lokal yang telah menghitung potensi pendapatan selama ajang berlangsung. Sektor perhotelan dan UMKM di Palu dan sekitarnya menjadi pihak yang paling merasakan kehilangan ini.