SULAWESI TENGAH — Kepergian Howe menandai akhir dari era sukses sekaligus penuh tantangan di St James' Park. Meski musim lalu berakhir tanpa tiket Eropa, pria 48 tahun itu tetap dikenang sebagai arsitek kebangkitan Newcastle. Ia berhasil membawa tim ke fase gugur Liga Champions untuk pertama kalinya dan mengakhiri puasa gelar domestik selama 70 tahun dengan menjuarai Carabao Cup 2024-25.
Tekanan mulai memuncak setelah Newcastle kehilangan dua gelandang kunci di bursa transfer musim panas ini. Sandro Tonali dilego ke Tottenham Hotspur dan Anthony Gordon pindah ke Barcelona. Situasi diperparah dengan kabar bahwa kapten tim, Bruno Guimaraes, ingin bergabung dengan Arsenal, juara Premier League.
Howe sendiri sempat frustrasi pada bursa transfer sebelumnya. Ia harus rela melepas striker andalannya, Alexander Isak, yang pindah ke Liverpool dengan rekor transfer Inggris senilai 125 juta poundsterling. Di sisi lain, hasil buruk di liga menjadi pukulan telak. Dari 38 pertandingan, Newcastle menelan 17 kekalahan dan gagal mengamankan satu pun tiket kompetisi Eropa.
Dalam pernyataan resminya, Howe menegaskan bahwa keputusan ini murni diambil setelah melalui refleksi pribadi. Ia merasa sudah memberikan segalanya dan kini waktunya untuk beristirahat.
"Setelah hampir lima tahun memberikan hidup, hati, dan jiwa saya ke klub dengan energi yang tak kenal lelah, saya merasa ini adalah keputusan yang terbaik bagi diri saya dan klub untuk mundur, mengisi ulang tenaga, dan beristirahat," ujar Howe.
"Ini adalah kehormatan seumur hidup saya menjadi manajer Newcastle United," tambahnya penuh haru.
Kepergian Howe tidak sendirian. Jajaran pelatih setianya, termasuk Jason Tindall, Graeme Jones, Stephen Purches, dan Simon Weatherstone, juga meninggalkan St James' Park. Kepala performa Dan Hodges turut angkat kaki dari klub.
Newcastle menyebut proses rekrutmen pelatih anyar sudah berada di tahap lanjut. Nama Matthias Jaissle, pelatih asal Jerman, menjadi favorit utama untuk mengisi kursi panas tersebut. Chief executive Newcastle, David Hopkinson, memastikan Howe dan stafnya meninggalkan kesan mendalam di klub.
"Eddie dan stafnya meninggalkan klub dengan rasa terima kasih dan hormat yang mendalam dari semua orang di Newcastle United, serta tempat yang abadi dalam sejarah klub," ujar Hopkinson.
Laga terakhir Howe bersama Newcastle berakhir dengan kekalahan telak 1-4 dari Bristol City di laga pramusim, Rabu lalu. Namun, warisan yang ia tinggalkan jauh lebih besar dari hasil pertandingan persahabatan tersebut.
Howe mengambil alih tim saat Newcastle terpuruk di dasar klasemen pada November 2021. Ia berhasil membawa tim finis di peringkat 11 di musim pertamanya, lalu menembus empat besar dan lolos ke Liga Champions pada musim 2022-23. Puncaknya, gelar Carabao Cup musim lalu menjadi trofi pertama Newcastle dalam 70 tahun terakhir.
"Ada begitu banyak momen luar biasa selama kami di sini. Dari perjuangan melawan degradasi di musim pertama hingga malam-malam tak terlupakan di St James' Park di Liga Champions. Perkembangannya sangat cepat. Semua orang bersatu dan kami menjadi kekuatan yang hebat," kenang Howe.