SULAWESI TENGAH — GIIAS 2026 baru saja dibuka di ICE BSD, dan DFSK langsung menjadi salah satu perbincangan utama. Bukan tanpa alasan: E5 Plus, SUV PHEV 7-seater mereka, resmi dipasarkan dengan harga intro Rp479 juta on-the-road Jakarta selama masa pameran. Setelah GIIAS selesai, harga akan naik menjadi Rp499 juta. Selisih Rp20 juta ini adalah strategi umum untuk mendorong keputusan pembelian cepat, dan tampaknya berhasil—lebih dari 1.200 unit sudah dipesan sejak pre-book dibuka akhir Juni lalu.
Klaim paling mencolok dari E5 Plus adalah jarak tempuh gabungan hingga 1.400 km berdasarkan siklus NEDC. Angka ini berasal dari kombinasi motor listrik dan mesin konvensional. Yang lebih menarik, 140 km di antaranya bisa ditempuh murni dengan tenaga listrik. Ini berarti, untuk pemakaian harian dalam kota—asalkan kamu punya akses charger—E5 Plus bisa beroperasi sebagai mobil listrik murni tanpa mengeluarkan setetes bensin.
Namun, perlu diingat bahwa NEDC adalah siklus pengujian yang cenderung optimistis. Di dunia nyata, angka 1.400 km kemungkinan besar akan turun, tergantung gaya berkendara dan kondisi jalan. Tapi setidaknya, skema PHEV ini menyasar konsumen yang masih punya range anxiety terhadap mobil listrik murni. Kamu dapat ketenangan jarak jauh dengan mesin bensin, plus efisiensi harian berkat motor listrik.
DFSK benar-benar memanjakan penumpang belakang. E5 Plus dibekali Rear Entertainment Display 15,6 inci yang diklaim sebagai yang pertama di kelasnya. Layar ini ditempatkan di baris kedua, cocok untuk menonton film atau konten selama perjalanan jauh. Fitur ini jarang ditemukan di SUV sekelas harga Rp479-499 juta, biasanya hanya ada di mobil premium Eropa atau China kelas atas.
Selain itu, ventilated seat tidak hanya ada di baris depan, melainkan juga di baris kedua. Ini adalah fitur langka yang sangat berguna di iklim tropis Indonesia. Kabin tiga baris dirancang untuk keluarga, dan DFSK juga menyematkan Air Purification System dengan sensor partikel 2,5 mikron. Untuk urusan kenyamanan, klaim peredaman suara di lebih dari 300 titik bodi patut diuji—apakah benar-benar senyap seperti klaimnya di jalan tol?
Suspensi Frequency Selective Damping (FSD) diklaim bisa menyesuaikan karakter redaman secara otomatis. Di atas kertas, ini adalah teknologi yang biasanya ditemukan di mobil-mobil Eropa. FSD bekerja dengan cara mengubah kekuatan redaman berdasarkan frekuensi getaran jalan—lebih empuk di jalan rusak, lebih rigid di tol. Ini adalah salah satu fitur yang paling kami tunggu untuk diuji coba langsung, karena jika bekerja optimal, kenyamanan berkendara akan naik kelas.
Selain harga khusus, DFSK menawarkan Free Maintenance 5 tahun atau 100.000 km. Program ini mencakup jasa dan suku cadang penggantian oli mesin serta filter oli. Ini cukup menarik karena biaya perawatan mobil baru sering jadi beban tambahan. Namun, pastikan kamu membaca detailnya: biasanya program seperti ini hanya mencakup item tertentu, bukan seluruh komponen mobil.
Selama GIIAS, setiap pemesanan (SPK) untuk seluruh lini model DFSK juga mengikutsertakan konsumen dalam program lucky dip dengan hadiah yang diserahkan bersamaan proses delivery. Ini bonus tambahan, bukan fitur utama yang perlu mempengaruhi keputusanmu.
DFSK E5 Plus jelas menawarkan value proposition yang kuat di atas kertas: PHEV 7-seater, fitur mewah seperti layar 15,6 inci dan ventilated seat, serta harga di bawah Rp500 juta. Bagi keluarga yang mencari mobil ramah lingkungan tanpa khawatir jarak tempuh, ini opsi yang patut dilirik. Tapi ingat, jangan hanya tergiur angka pre-order dan klaim jarak 1.400 km—lakukan test drive, cek kenyamanan baris ketiga, dan pastikan infrastruktur pengisian daya di rumahmu siap.