PALU — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah membuka peluang investasi untuk pembangunan industri pengolahan kakao di daerah. Langkah ini diambil karena sebagian besar produksi kakao dari provinsi tersebut masih dikirim ke luar daerah dalam bentuk bahan baku, tanpa diolah terlebih dahulu.
“Kita ini termasuk penghasil kakao, bahan baku kakao yang besar, tapi tidak ada hilirisasi. Dalam artian, tidak ada pabrik, tidak ada pengolahan,” kata Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulawesi Tengah Muhammad Nenk di Palu, Selasa.
Sulawesi Tengah memiliki potensi besar sebagai salah satu penghasil kakao nasional. Luas areal perkebunan kakao di provinsi ini mencapai sekitar 266.670 hektare dengan total produksi sekitar 196.210 ton per tahun.
Namun, besarnya potensi tersebut belum diimbangi dengan keberadaan industri pengolahan di dalam daerah. Akibatnya, nilai tambah dari proses pengolahan belum sepenuhnya dirasakan oleh para petani.
Pemerintah provinsi menyebutkan bahwa pengembangan industri pengolahan kakao akan diarahkan ke wilayah sentra produksi. Dua kabupaten yang menjadi prioritas adalah Parigi Moutong dan Poso, yang memiliki produksi kakao terbanyak di Sulawesi Tengah.
“Kakao terbanyak itu di Parigi Moutong dengan Poso. Mungkin bisa diarahkan di Parigi atau Poso. Ketika ada investor tertarik membangun investasi, kita pemerintah harus memberi ruang,” ujar Muhammad Nenk.
Untuk merealisasikan program hilirisasi, pemerintah provinsi melakukan pendampingan dan koordinasi dengan pemerintah pusat. Koordinasi ini diperlukan agar data pengembangan bibit kakao semakin akurat dan menjadi dasar pelaksanaan program.
“Kami dari pemerintah provinsi melakukan pendampingan dan koordinasi bersama dengan pemerintah pusat untuk mendukung program hilirisasi, khususnya komoditas kakao di Sulawesi Tengah,” kata Muhammad Nenk.
Selain itu, pemerintah daerah juga berdiskusi dengan sejumlah pihak, termasuk GIZ, lembaga kerja sama internasional milik Pemerintah Jerman. GIZ disebut turut mendampingi petani kakao dan memiliki jaringan offtaker atau pihak yang menyerap hasil produksi.
Upaya menarik investor juga dilakukan melalui kunjungan Gubernur Sulawesi Tengah ke China. Pemerintah provinsi berharap langkah ini dapat mendatangkan investor yang berminat membangun industri pengolahan kakao di daerah.
Di sisi hulu, pemerintah provinsi juga memperkuat pengembangan komoditas kakao melalui penyediaan bibit dan pendampingan kepada petani untuk meningkatkan produksi.