4 Alasan Smart Ring Kini Lebih Diminati dari Smartwatch pada 2026—Oura Ring, Galaxy Ring hingga Ultrahuman

Penulis: Andi Pratama  •  Minggu, 26 Juli 2026 | 10:09:01 WIB

SULAWESI TENGAH — Pasar wearable Indonesia mulai bergeser. Jika selama ini smartwatch identik dengan pusat notifikasi sekaligus pelacak kebugaran di pergelangan, kini smart ring hadir sebagai alternatif yang bekerja diam-diam di latar belakang. Perangkat berbentuk cincin ini dirancang untuk memantau detak jantung, kualitas tidur, kadar oksigen darah (SpO2), suhu kulit, hingga pemulihan tubuh—tanpa layar yang terus menyala.

Empat Alasan Pengguna Beralih ke Smart Ring

Sejumlah ulasan teknologi sepanjang 2025–2026 menyoroti empat faktor utama yang mendorong tren ini. Pertama, kenyamanan fisik. Smart ring hampir tidak terasa saat digunakan, terutama saat tidur, sementara smartwatch sering dianggap terlalu besar untuk pemakaian jangka panjang.

Kedua, minim distraksi. Tidak adanya layar membuat perangkat ini tidak membombardir pengguna dengan notifikasi pesan atau panggilan. "Smart ring dirancang untuk beroperasi diam-diam di latar belakang," demikian salah satu kesimpulan ulasan, sehingga pengguna bisa fokus pada aktivitas sehari-hari.

Ketiga, daya tahan baterai lebih lama. Karena tidak perlu menyalakan layar dan fitur interaktif berat, konsumsi daya smart ring tergolong rendah. Sebagian besar model mampu bertahan 4–7 hari sekali isi ulang, memungkinkan pemantauan kesehatan berjalan kontinu tanpa sering dilepas.

Keempat, fokus pada data kesehatan. Banyak pengguna ternyata tidak membutuhkan layar tambahan. Mereka hanya ingin mengetahui kualitas tidur, tingkat stres, atau pemulihan tubuh harian. Smart ring dinilai lebih efisien karena menyediakan data inti tanpa fitur yang tidak pernah digunakan.

Perbandingan Smart Ring vs Smartwatch: Bukan Saling Menggantikan

Meski tren smart ring menguat, bukan berarti smartwatch ditinggalkan sepenuhnya. Kedua perangkat justru mulai menempati fungsi yang berbeda. Smart ring unggul dalam pemantauan kesehatan pasif, sementara smartwatch tetap menjadi pilihan utama untuk notifikasi, olahraga dengan GPS, dan fitur interaktif lainnya.

Beberapa produk yang sering muncul dalam perbandingan antara lain Oura Ring 4, Samsung Galaxy Ring, RingConn Gen 2, dan Ultrahuman Ring Air. Masing-masing mendukung Android dan iOS, dengan fokus utama pada sleep tracking, HRV (heart rate variability), detak jantung, SpO2, dan skor pemulihan. Model terbaru bahkan sudah dibekali deteksi sleep apnea.

Keterbatasan yang Perlu Dipertimbangkan

Smart ring bukan tanpa kekurangan. Ukurannya yang kecil membuat layar atau interaksi langsung tidak mungkin dilakukan—pengguna harus membuka aplikasi ponsel untuk melihat data detail. Selain itu, tidak semua smart ring memiliki akurasi setara smartwatch untuk aktivitas olahraga berat. Croma Unboxed dalam ulasannya mencatat bahwa smart ring paling cocok bagi mereka yang ingin manfaat pelacakan kesehatan tetapi tetap mempertahankan desain jam tangan klasik.

Hingga awal 2026, harga smart ring di Indonesia masih bervariasi, mulai dari Rp 3 jutaan hingga Rp 8 jutaan tergantung fitur dan merek. Meski belum seramai smartwatch, minat terhadap perangkat ini terus tumbuh seiring kesadaran akan pemantauan kesehatan yang tidak mengganggu.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: media.alkhairaat.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top