BUOL — Personel Kompi 4 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Sulawesi Tengah turun langsung ke lokasi terdampak gempa di Kabupaten Buol untuk memulihkan kondisi psikologis anak-anak. Pendekatan humanis menjadi kunci dalam kegiatan ini, di mana para personel tidak hanya bertugas mengamankan, tetapi juga berperan sebagai pendamping dan penghibur bagi para penyintas cilik.
Komandan Kompi (Danki) 4 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Sulteng AKP Suharyono menegaskan bahwa pemulihan psikologis anak-anak merupakan bagian integral dari penanganan pascabencana. Menurutnya, rasa takut dan cemas pascagempa dapat mengganggu tumbuh kembang dan aktivitas sehari-hari mereka jika tidak segera diatasi.
"Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami trauma setelah bencana. Melalui kegiatan trauma healing ini kami berharap mereka dapat kembali ceria, berani beraktivitas, dan perlahan melupakan rasa takut akibat gempa yang terjadi," kata AKP Suharyono di Buol, Minggu.
Lebih dari sekadar evakuasi dan pembersihan material bangunan, kehadiran personel Brimob di lokasi bencana juga bertujuan memberikan dukungan moral. Suharyono menjelaskan bahwa kegiatan trauma healing ini dirancang untuk berkelanjutan, bukan aksi seremonial belaka. Harapannya, para penyintas, khususnya anak-anak, bisa kembali menjalani rutinitas dengan rasa aman.
"Penanganan bencana tidak hanya berfokus pada pemulihan infrastruktur, tetapi juga pada pemulihan psikososial masyarakat, khususnya anak-anak," tegasnya.
Gempa bumi magnitudo 5,4 yang mengguncang Buol pada Minggu pagi tidak hanya menimbulkan kepanikan, tetapi juga menyebabkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan. Selain menjalankan program pemulihan trauma, personel SAR Kompi 4 Batalyon A Pelopor juga terus dikerahkan untuk proses evakuasi dan pembersihan puing-puing bangunan yang roboh. Upaya ini dilakukan untuk memastikan lingkungan aman dan mempercepat pemulihan aktivitas warga pascagempa.