SULAWESI TENGAH — Kenaikan biaya chip memori yang dipicu oleh permintaan besar dari pusat data kecerdasan buatan (AI) mulai mengguncang pasar ponsel global. India, yang merupakan pasar smartphone terbesar kedua di dunia setelah China, menjadi bukti paling nyata dari dampak ini.
Lembaga riset pasar Counterpoint Research mencatat pengiriman smartphone di India turun 10% year-on-year pada kuartal kedua 2024. Penurunan ini merupakan yang terdalam untuk periode April-Juni dalam enam tahun terakhir.
Produsen chip seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron disebut telah menggeser kapasitas produksi mereka ke memori bandwidth tinggi (high-bandwidth memory) untuk akselerator AI. Chip jenis ini jauh lebih menguntungkan per wafarnya dibandingkan memori standar untuk ponsel atau laptop.
Akibatnya, pasokan chip untuk perangkat konsumen menyusut. Tarun Pathak, wakil presiden riset di Counterpoint Research, menjelaskan bahwa harga ponsel di India naik antara 4% hingga 68%, tergantung modelnya.
India memiliki sekitar 60% pangsa pasar di segmen ponsel di bawah INR 20.000 (sekitar Rp 3,5 juta). Segmen inilah yang paling keras terkena dampak kenaikan harga komponen.
Counterpoint mencatat pengiriman ponsel di segmen di bawah INR 15.000 (sekitar Rp 2,6 juta) ambles hingga 45% dibandingkan tahun lalu. Merek-merek China yang selama ini menguasai pasar entry-level dan menengah mengalami penurunan pangsa pasar gabungan ke level terendah sejak 2020.
“Sub-merek biasanya memiliki tumpang tindih dan berbagi sumber daya, dan Anda membutuhkan basis minimum untuk membenarkan margin yang tipis,” ujar Pathak. “Profitabilitas adalah kunci untuk menentukan operasi pasar.”
Alih-alih meninggalkan ponsel sepenuhnya, konsumen cenderung menunda upgrade. Siklus penggantian ponsel diperkirakan melambat dari 3,5 tahun menjadi sekitar 4 tahun.
Kiranjeet Kaur, associate research director untuk riset ponsel di IDC, mengatakan pasar India mulai bergeser dari pertumbuhan volume ke pertumbuhan nilai. Artinya, lebih sedikit ponsel yang terjual, namun setiap unit menghasilkan pendapatan lebih tinggi.
“Pembiayaan menjadi pusat keterjangkauan,” tambah Kaur. Skema kredit dan cicilan disebut menjadi faktor utama yang membuat HP kelas atas tetap terjangkau, meskipun harganya naik.
Merek premium seperti Apple dan Samsung disebut lebih terlindungi dari perlambatan ini. Samsung bahkan mencatat pertumbuhan pengiriman 2% year-on-year di India pada kuartal kedua.
Apple memang mengalami penurunan pengiriman 3%, namun hal itu lebih disebabkan oleh keterbatasan pasokan dan inventaris, bukan karena permintaan yang lesu.
Di sisi lain, OnePlus mengumumkan akan berhenti meluncurkan produk baru di Eropa dan Amerika Utara, namun tetap mempertahankan bisnisnya di India. Data Counterpoint menunjukkan pangsa India dalam pengiriman global OnePlus turun dari 30% menjadi 19% dalam satu tahun terakhir.
“Konsumen ponsel kelas atas terbukti tidak terlalu sensitif terhadap kenaikan harga,” kata Prachir Singh, analis senior di Counterpoint Research. Pola ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring ketatnya margin di segmen bawah.