SULAWESI TENGAH — Laporan penjualan kendaraan listrik (EV) di Amerika Serikat untuk semester pertama 2026 baru saja dirilis. Angkanya suram: penurunan 24 persen year-on-year menjadi 462.892 unit. Pemicu utamanya adalah pencabutan kredit pajak federal yang selama ini menjadi jurus jitu mendongkrak harga EV agar lebih kompetitif ketimbang mobil bermesin bensin.
Meski pasar sedang tertekan, Tesla tetap kokoh di puncak. Namun, pabrikan asal Amerika itu memilih tidak merinci angka penjualan per model. Cox Automotive pun menggunakan estimasi untuk mengisi celah data tersebut, menggantikan metode sebelumnya yang mengandalkan data dari Automotive News.
Di sisi lain, Toyota justru mencatatkan pertumbuhan solid. Model-model listrik yang diperbarui, seperti bZ4X yang baru saja mendapat ubahan signifikan, mulai menarik minat konsumen yang sebelumnya ragu. Ini menjadi sinyal bahwa strategi Toyota untuk merilis EV dengan harga lebih rasional mulai membuahkan hasil.
Berdasarkan estimasi Cox Automotive, dua model paling laris masih dikuasai Tesla. Model Y memimpin dengan perkiraan penjualan lebih dari 100.000 unit, disusul Model 3 di bawahnya. Posisi ketiga ditempati Ford Mustang Mach-E yang berhasil mempertahankan momentum, meski penjualan EV Ford secara keseluruhan ikut tertekan.
Yang menarik, Hyundai Ioniq 5 dan Kia EV6 juga masuk dalam jajaran 10 besar. Keduanya menunjukkan bahwa konsumen masih menghargai desain dan teknologi pengisian daya cepat, meskipun harganya tidak lagi disubsidi pemerintah.
Berikut urutan 10 besar berdasarkan data Cox Automotive periode Januari-Juni 2026:
Penurunan ini membuka diskusi baru di kalangan analis: apakah pasar EV bisa bangkit tanpa insentif? Beberapa pihak menilai, penurunan drastis ini justru akan memaksa pabrikan menurunkan harga jual secara organik. Namun, dengan suku bunga yang masih tinggi, daya beli konsumen kelas menengah AS tetap terbatas.
Laporan ini juga mencatat bahwa beberapa pabrikan seperti General Motors dan Mercedes-Benz mulai menunda peluncuran model listrik baru mereka di AS. Keputusan itu diambil setelah melihat respons pasar yang dingin terhadap model-model yang sudah beredar. Sementara itu, Toyota dan Hyundai justru memanfaatkan celah ini untuk memperkuat lini produk mereka.