SIGI — BRMP Sulawesi Tengah menargetkan perluasan penerapan sistem pertanian modern PM-AAS pada Juli hingga September mendatang. Luas lahannya mencapai 24.414 hektare dari total potensi tanam 36.114 hektare di provinsi tersebut.
Kepala BRMP Sulteng Ruslan Boy menyebut program ini bukan sekadar penggunaan alat dan mesin pertanian. “PM-AAS merupakan sistem budidaya terpadu yang mengintegrasikan teknologi, mekanisasi, penggunaan benih unggul, pemupukan presisi, penggunaan air yang efisien, digitalisasi pertanian, serta manajemen usaha tani berbasis data,” kata Ruslan di Sigi, Selasa.
Ruslan menegaskan modernisasi pertanian kerap disalahartikan sebagai sekadar menghadirkan alat berat ke sawah. Padahal, pendekatan ini membangun sistem produksi yang menyeluruh.
“Tentunya modernisasi pertanian bukan semata-mata menghadirkan alat dan mesin pertanian, tetapi membangun sistem produksi yang lebih efisien, produktif, adaptif terhadap perubahan iklim, dan mampu meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan petani,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya diukur dari meningkatnya produksi, tetapi juga dari nilai tambah, efisiensi usaha tani, dan kualitas hidup petani.
Sulawesi Tengah menjadi salah satu daerah di Indonesia Timur yang ditetapkan sebagai lumbung pangan nasional. Karena itu, perluasan PM-AAS di provinsi ini dinilai strategis untuk mendongkrak produktivitas secara berkelanjutan.
Ruslan menjelaskan, sistem ini dikembangkan sebagai jawaban atas kebutuhan peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani. “Harapannya ini bisa meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, mengurangi kehilangan hasil panen, mempercepat waktu tanam, dan meningkatkan kualitas gabah yang dihasilkan,” kata dia.
Dalam implementasinya, PM-AAS menggabungkan beberapa komponen sekaligus. Mulai dari mekanisasi pertanian, benih unggul bersertifikat, pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman (presisi), hingga irigasi yang efisien.
Digitalisasi pertanian dan manajemen usaha tani berbasis data juga menjadi bagian dari sistem ini. Pendekatan itu memungkinkan petani mengambil keputusan lebih tepat berdasarkan kondisi lahan dan cuaca.
“Ke depan program ini diharapkan menjadi motor penggerak modernisasi budidaya padi di berbagai sentra produksi, hingga produktivitas nasional meningkat secara berkelanjutan dan mampu memperkuat ketahanan pangan di Indonesia, khususnya di Sulawesi Tengah,” pungkas Ruslan.